Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.
Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.
Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.
Banyak ukiran kayu Suku Asmat yang mendiami daerah sepanjang pantai selatan Pulau Papua menjadi koleksi berharga di sejumlah museum berkelas dunia, salah satunya adalah Museum of Natural Art di New York, Amerika Serikat.
Demikian diakui, Pimpinan "Papua -Explorer", Dr. Werner F.Weiglein di Jayapura, Minggu menanggapi kekayaan budaya masyarakat Papua yang cukup memukau masyarakat dunia.
Dikatakannya, ukiran-ukiran kayu hasil karya Suku Asmat sangat menarik karena motifnya yang beragam dengan tingkat kerumitan tinggi dilihat dari alat-alat yang digunakan untuk mengukir serta sarat makna budaya.
Misalnya, ukiran yang menggambarkan wajah nenek moyang, binatang-binatang yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti kasuari dan buaya serta motif-motif antropomorfik.
Selain itu, ukiran kayu Suku Asmat juga menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan masyarakat karena hampir dijumpai di setiap benda-benda yang mereka miliki seperti tiang-tiang di dalam yeu (rumah adat), perisai untuk berperang dan kentungan.
Dr.Weiglen menambahkan keahlian Suku Asmat tidak hanya mengukir kayu menjadi benda-benda seni yang unik dan menarik, tapi juga membuat kano yang digunakan sebagai alat transportasi utama masyarakat yang tinggal di daerah rawa dengan sungai-sungai yang banyak ditumbuhi hutan bakau.
"Panjang kano yang terbuat dari kayu bisa mencapai 15 meter dan beberapa kano dihiasi dengan ukiran dan dekorasi yang luar biasa," katanya.
Adapun peralatan yang biasanya digunakan para pemahat Suku Asat terdiri dari kapak batu, gigi binatang dan kulit kerang. Sedangkan untik menghaluskan patahan, mereka menggunakan taring babi, gigi-gigi ikan tertentu dan tiram.
Beberapa Suku Asmat yang mendiami daerah yang jauh dari pesisir, membangun rumah di atas puncak-puncak pohon, sekitar 30 meter di atas permukaan tanah. Bahkan, ada pula yang masih hidup secara nomaden.
Salah seorang petualang yang sangat tertarik dengan kehidupan Suku Asmat adalah Michael Clark Rockefeller, anak dari jutawan Amerika dan juga Presiden Direktur Chase Manhattan Bank, David Rockefeller yang dinyatakan hilang pada sekitar September 1961.
Pada waktu itu, Michael Rockefeller kembali ke Asmat setelah sebelumnya melakukan ekspedisi bersama Harvard Peabody Expedition pada Maret 1961, dengan tujuan khusus membuat dokumentasi dan koleksi untuk Museum Primitif Art New York.
Sekitar pertengahan September, dia melintasi muara Sungai Betsy yang terletak dekat dengan perkampungan Otsyanep yang terkenal dengan keganasan penghuninya. Dalam perjalanan inilah, Michael Rockefeller lenyap secara misterius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar